1. Pengertian Indeks Harga

Kenaikan harga berbagai komoditas di masyarakat secara umum diukur dari hasil pencatatan harga komoditas di berbagai kota di Indonesia. Tugas ini dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Perhitungan dilakukan setiap bulan dengan menggunakan angka indeks. Angka indeks adalah suatu angka relative yang dinyatakan dalam persentase dan biasanya untuk kesederhanaan lambang persentasenya dihilangkan. Terdapat beberapa macam angka indeks, namun pada modul ini hanya akan dibahas tentang Indeks Harga. Indek harga adalah angka yang diharapkan dapat dipakai untuk memperlihatkan perubahan mengenai harga-harga barang, baik harga untuk satu macam barang maupun berbagai macam barang dalam waktu dan tempat yang sama atau berlainan.

Terdapat tiga kemungkinan dalam hasil perhitungan indeks harga, yaitu:
a. Jika indeks harga > 100 berarti harga mengalami kenaikan (terjadi inflasi).
b. Jika indeks harga < 100 berarti harga mengalami penurunan (terjadi deflasi).
c. Jika indeks harga = 100 berarti harga tetap (tidak naik dan tidak turun).

Contoh:
Bila harga barang tahun 2014 sebesar Rp8.000,00 per kilogram, kemudian pada tahun 2015 naik menjadi Rp10.000,00 per kilogram, maka indeks harga barang tersebut pada tahun 2015 dapat dihitung sebagai berikut:

={\frac {10.000} {8.000}}\ \times \ 100=125

Jadi harga barang pada tahun 2015 mengalami kenaikan sebesar 25%.

2. Jenis Indeks Harga

Adapun jenis indeks harga dalam kegiatan ekonomi suatu negara secara umum dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

a. Indeks Harga Konsumen (IHK)

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indeks harga yang umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. Dengan kata lain, IHK adalah indeks yang mengukur perubahan-perubahan yang terjadi pada harga eceran barang dan jasa yang diminta konsumen dari waktu ke waktu. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari sejumlah barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. IHK merupakan salah satu indikator ekonomi yang memberikan informasi mengenai harga barang dan jasa yang dibayar oleh konsumen. Perhitungan IHK dilakukan untuk merekam perubahan harga beli di tingkat konsumen (purchasing cost) dari sekelompok tetap barang dan jasa (fixed basket) yang pada umumnya dikonsumsi masyarakat.

b. Indeks Harga Produsen (IHP)

Indeks Harga Produsen (IHP) adalah indeks harga yang menggambarkan tingkat perubahan harga di tingkat produsen. Pengguna data dapat memanfaatkan perkembangan harga produsen sebagai indikator dini harga grosir maupun harga eceran. Selain itu dapat juga digunakan untuk membantu penyusunan neraca ekonomi (PDB), distribusi barang, margin perdagangan, dan sebagainya. IHP dikelompokkan ke dalam
sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, dan Industri Pengolahan.

c. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB)

Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa IHPB adalah harga indeks yang menggambarkan besarnya perubahan harga pada tingkat harga perdagangan besar/grosir dari komoditas-komoditas yang diperdagangkan di suatu negara/daerah, Komoditas tersebut merupakan produksi dalam negeri ataupun yang diekspor dan komoditas yang berasal dari impor.

Data Sosial Ekonomi BPS Juli 2015

d. Indeks harga yang diterima (It) dan dibayar petani (Ib)

Indeks harga yang diterima (It) yaitu indeks harga yang berhubungan dengan pengorbanan (harga pokok) yang telah dikorbankan dengan hasil diterima petani, atau indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani.

Sedangkan Indeks harga yang dibayar petani (Ib), yaitu indeks harga yang meliputi pembelian/biaya konsumsi dan pembelanjaan untuk biaya produksi pertaniannya atau indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan rumah tangga petani, baik itu kebutuhan untuk konsumsi sehari-hari maupun kebutuhan untuk proses produksi pertanian.

Dari perhitungan indeks harga yang diterima petani dan dibayar petani, maka dapat ditentukan Nilai Tukar Petani. Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan angka perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase. NTP merupakan salah satu indikator relatif tingkat kesejahteraan petani. Semakin tinggi NTP maka semakin sejahtera tingkat kehidupan petani.

Data Sosial Ekonomi BPS Juli 2015.

e. Indeks harga saham
Indeks harga saham yaitu indeks harga yang mengukur perubahan harga saham di pasar modal, yang terdiri dari:

1) Indeks Harga Saham Individu (IHSI) adalah indeks harga masing-masing saham yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI).
2) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah indeks semua saham yang tercatat sebagai komponen perhitungan indeks.

3. Tujuan Perhitungan Indeks Harga

Dalam menyusun indeks harga perlu dirumuskan tentang apa yang akan diukur, bagaimana cara mengukur, dan untuk apa pengukuran tersebut dilakukan. Penyusunan indeks harga dalam ekonomi bertujuan antara lain sebagai berikut.

a. Sebagai petunjuk atau barometer dari kondisi ekonomi umum. Hal ini mengandung maksud sebagai berikut:

  • Indeks harga grosir dapat menggambarkan secara tepat tentang tren perdagangan.
  • Indeks harga diterima petani dapat menggambarkan kemakmuran di bidang agraria.

b. Sebagai pedoman bagi kebijakan dan administrasi perusahaan.

c. Indeks harga dapat dipergunakan sebagai deflator, maksudnya bahwa pengaruh perubahan harga dapat dihilangkan dengan cara membagi nilai tertentu dengan indeks harga yang sesuai. Proses ini dinamakan proses deflasi dan pembaginya disebut deflator.

d. Indeks harga dapat dipakai sebagai pedoman bagi pembelian barang-barang. Maksudnya adalah harga barang yang dibeli dapat dibandingkan dengan indeks harga eceran atau indeks harga grosir agar dapat diukur efisiensi pembelian barang-barang yang bersangkutan.

e. Indeks harga barang-barang konsumsi merupakan pedoman untuk mengatur gaji buruh atau menyesuaikan kenaikan gaji buruh pada masa inflasi.

4. Metode Perhitungan Indeks Harga

Perhitungan indeks harga dapat dilakukan dengan beberapa metode. Oleh karena itu, perlu dilakukan pilihan yang tepat agar tujuan angka indeks yang telah ditetapkan hasilnya dapat dipercaya. Pada dasarnya terdapat dua metode penghitungan angka indeks yaitu:

a. Indeks Harga Agregatif Sederhana atau Indeks Harga Agregatif Tidak Tertimbang (simple aggregative methode).
b. Indeks Harga Agregatif Tertimbang.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan pembahasan berikut ini.

a. Indeks Harga Agregatif Sederhana (Indeks Harga Agregatif Tidak Tertimbang).
Metode ini sangat sederhana, indeks harga dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Rumus:

IA={\frac { \Sigma {{P}_{n}}} {\Sigma{{P}_{n}}}} \times 100

Keterangan :
IA = Indeks harga agregatif tidak ditimbang
Pn = harga yang dihitung angka indeksnya
Po = harga pada tahun dasar

Contoh:

Berdasarkan data di atas, maka angka indeks harga tahun 2015 adalah:

IA= \frac{2300}{2200} \times 100=104,55

Jadi, harga tahun 2015 mengalami kenaikan sebesar 4,55%.

b. Indeks Harga Agregatif Tertimbang

Penghitungan indeks harga agregatif tertimbang dapat dilakukan dengan beberapa metode. Simaklah penjelasannya masing-masing pada pembahasan berikut ini.

1) Metode Laspeyres (IL)

Indeks Laspeyres adalah indeks harga tertimbang dengan kuantitas barang pada tahun dasar (Qo) sebagai faktor penimbangnya. IL dihitung dengan rumus:

Rumus:

IL={\frac { \Sigma ({{P}_{n}}.{{Q}_{o}})} { \Sigma ({{P}_{o}}.{{Q}_{o}})}} \times 100

Keterangan:
IL = Angka Indeks Laspeyres
Pn = Harga pada tahun yang dihitung indeksnya
Po = Harga pada tahun dasar
Qo= Kuantitas pada tahun dasar

Untuk lebih jelasnya tetang penghitungan angka indeks Laspeyres, perhatikan contoh di bawah ini.

2) Metode Paasche (IP)

Indeks Paasche adalah indeks harga tertimbang dengan kuantitas barang pada tahun yang diukur (Qn) sebagai faktor penimbangnya. IP dihitung dengan rumus:

Rmus:

IP={\frac { \Sigma ({{P}_{n}}.{{Q}_{o}})} { \Sigma ({{P}_{o}}.{{Q}_{o}})}} \times 100

Dimana:
IP = Angka Indeks Paasche
Pn = Harga tahun yang dihitung angka indeksnya
Po = Harga pada tahun dasar
Qn= Kuantitas tahun yang dihitung angka indeksnya

Berikut adalah contoh penghitungan angka indeks tertimbang dengan metode Paasche.

Berdasarkan datadi atas, maka indeks Paasche dapat dihitung sebagai berikut.

IP= \frac{242.500}{240.000} \times 100=101,04

Berarti pada tahun 2015 terjadi kenaikan harga sebesar 1,04%.

Dari Metode Laspeyres dan Metode Paasche terdapat suatu kelemahan sebagai berikut.

  • Angka indeks Laspeyres mempunyai kelemahan yaitu hasil penghitungan lebih
    besar (over estimate), karena pada umumnya harga barang cenderung naik, sehingga
    kuantitas barang yang diminta mengalami penurunan. Dengan demikian besarnya
    Qo akan lebih besar dari pada Qn.
  • Angka indeks Paasche mempunyai kelemahan yaitu hasil penghitungan
    cenderung lebih rendah (underestimate), karena dengan naiknya harga akan
    menyebabkan permintaan turun, sehingga Q n lebih kecil dari pada Qo.

Untuk menghilangkan kelemahan tersebut dilakukan dengan cara mengintegrasikan angka indeks tersebut, yaitu dengan menggunakan metode indeks Drobisch and Bowley. (ID), Indeks Irving Fisher (IF), dan Indeks Marshal Edgewarth (IM).

3) Metode Drobisch and Bowley (ID)

Angka indeks tertimbang dengan Metode Drobisch and Bowley dapat dirumuskan
sebagai berikut.

Rumus:

ID={\frac {IL+IP} {2}}

Keterangan :
ID = Indeks Drobisch and Bowley
IL = Indeks Laspeyres
IP = Indeks Paasche

Contoh soal:
Berdasarkan penghitungan angka indeks Laspeyres dan Paasche, pada soal di atas dapat dihitung besarnya indeks Drobisch Bowley sebagai berikut.

ID= \frac{105.00+101.04}{2}=103,02

Berarti terdapat kenaikan harga 3,02% pada tahun 2015.

4) Metode Irving Fisher (IF)

Penghitungan angka indeks dengan Metode Irving Fisher merupakan angka indeks yang ideal. Irving Fisher menghitung indeks kompromi dengan cara mencari rata-rata ukur dari indeks Laspeyres dan indeks Paasche.

Rumus:

IF={\sqrt {ILxIP}}

Keterangan :
IF = Angka indeks Irving Fisher
IL = Angka indeks Laspeyres
IP = Angka indeks Paasche

Berdasarkan penghitungan angka indeks Laspeyres dan Paasche, maka dapat dihitung besarnya indeks Irving Fisher sebagai berikut.

IF={\sqrt {105.00×101.04}}=103.00

Berarti terdapat kenaikan harga 3,00% pada tahun 2015.

5) Metode Marshal Edgewarth (IM)

Menurut metod ini, angka indeks dihitung dengan cara menggabungkan kuantitas tahun dasar dan kuantitas tahun n, kemudian mengalikannya dengan harga pada tahun dasar atau harga pada tahun n.

Rumus:

M={\frac { \Sigma ({{Q}_{o}}+{{Q}_{n}}){{P}_{n}}} { \Sigma ({{Q}_{o}}+{{Q}_{n}}){{P}_{o}}}} \times 100

Keterangan :
IM = Indeks Marshal Edgewarth
Qo = Jumlah kuantitas pada tahun dasar
Qn = Jumlah kuantitas tahun yang dihitung
Po = Harga pada tahun dasar
Pn = Harga pada tahun yang dihitung

Untuk lebih jelasnya, perhatikan data pada tabel dibawah ini agar kamu dapat mencari angka indeks Marshal Edgewarth.

Berdasarkan data di atas, maka angka indeks Marshal Edgewarth dapat dihitung sebagai berikut.

IM= \frac{452.500}{440.000}=102,84

Berarti terjadi kenaikan harga sebesar 2,84% pada tahun 2015.

c. Angka indeks rantai

Angka indeks rantai adalah perhitungan angka indeks dengan menggunakan tahun sebelumnya sebagai tahun dasar. Misalnya menghitung angka indeks tahun 2013 tahun dasarnya 2012, angka indeks tahun 2014 tahun dasarnya 2013, angka indeks tahun 2015 tahun dasarnya 2014, dan seterusnya.

Contohnya:

Indeks rantai dapat dihitung sebagai berikut :

  • Indeks\ tahun\ 2011={\frac {500} {500}}\times100=100.00
  • Indeks\ tahun\ 2012={\frac {600} {500}}\times100=120.00
  • Indeks\ tahun\ 2013={\frac {700} {600}}\times100=116.67
  • Indeks\ tahun\ 2014={\frac {800} {700}}\times100=114.29
  • Indeks\ tahun\ 2015={\frac {900} {800}}\times100=112.50

Leave a Reply